Kemenkum HAM Akan Memisahkan Napi LGBT Ke Kamar Isolasi

Kemenkum HAM Akan Memisahkan Napi LGBT Ke Kamar Isolasi – Direktoral Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Cocok) Kementerian Hukum serta HAM (Kemenkum HAM) akan ambil langkah-langkah berkaitan kejadian homoseksualitas di rutan serta lapas. Ditjen PAS akan memisahkan terpidana itu ke kamar isolasi sampai memberi pembinaan kepribadian.

“Jika diketemukan penyelewengan seksual baik oleh terpidana pria atau terpidana wanita, karena itu langkah yang diambil ialah pertama memisahkan terpidana yang LGBT dari terpidana normal dengan tempatkan di kamar isolasi, yakni kamar tempat tinggal untuk terpidana sakit baik medis atau psikis,” kata Kepala Sisi Humas Ditjen PAS Kemenkum HAM Ade Kusmanto, waktu dihubungi, Rabu (10/7/2019).

“Langkah ini diambil supaya tidak berlangsung penyebaran disorientasi seksual pada terpidana yang lain,” tambah ia.

Langkah setelah itu memberi pembinaan kepribadian pada narapidana yang mempunyai karakter sex menyelimpang itu. Pembinaan itu mencakup psikologi sampai keagamaan.

“Seterusnya memberi pembinaan kepribadian dengan memberi pembinaan mental keagamaan dengan pengawasan spesial, supaya muncul kesadaran diri jika tindakan itu dilarang agama, menyebabkan hukum serta memunculkan permasalahan kesehatan,” katanya.

Selanjutnya, Ade menjelaskan faksinya akan mengecek kesehatan narapidana gay atau lesbian. Kontrol itu untuk pastikan apa narapidana itu menanggung derita penyakit seksual yang beresiko.

“Selanjutnya mengecek kesehatan terpidana LGBT, untuk pastikan kesehatannya,” katanya.

Ada menjelaskan fenomenya gay atau lesbian di lapas serta rutan dapat dibawa oleh narapidana sebelum jadi masyarakat binaan. Diluar itu, kelebihan kemampuan masyarakat binaan, menurut Ade jadi satu diantara unsur timbulnya sex menyelimpang di lapas sebab keperluan biologis mereka tidak tercukupi.

“Kejadian ini dapat berlangsung sebab , pertama dibawa oleh terpidana di luar lapas, yakni sebelum masuk lapas sudah ada disorientasi seksual yang dibawa di luar lapas selanjutnya disebarkan dengan terselubung pada terpidana yang lain yang normal. Ke-2, disorientasi seksual didapatkan dari lapas sebab keperluan biologis tidak tercukupi sepanjang jalani pidana di lapas,” katanya.

“Kejadian itu juja disebabkan lapas serta rutan telah overcrowded (terlalu padat). Daya tampung tempat tinggal lapas/rutan tidak sesuai dengan jumlahnya nara pidana yang tiap tahunnya makin bertambah,” sebut Ade.